
Kekacauan terjadi di Sekolah Menengah Bukit Hijau. Nilai murid-murid yang biasa mendapat nilai terendah tiba-tiba meroket, melebihi para langganan juara. Para guru bingung, apalagi ketika menyadari yang mereka tengah hadapi adalah buah kemajuan teknologi. Teknologi penanaman chip yang bertujuan menciptakan manusia super. Teknologi yang sama juga mengancam persahabatan empat orang murid: Adli, Melba, Cicely dan Niscala. Perseteruan dengan teman sendiri, dengan orangtua dan antar orangtua tak dapat dihindarkan. Saskia dan Reynard, dua guru muda Bukit Hijau, jatuh bangun berusaha menstabilkan keadaan, sambil berusaha menepis percik rasa yang tumbuh diantara mereka berdua.
Buat semua umur!
 Semua bermula dari bunga tidur yang berisi pesan kepada Zahra untuk mencari sebuah buku kecil milik kakeknya. Dengan ditemani kedua sahabatnya, Zahra pun melakukan pencarian dan mulai menjejakkan kaki di berbagai tempat. Hingga akhirnya, mereka bertemu dengan Khairi, sosok pemuda desa yang tawadhu dan cerdas yang banyak membantu misi Zahra. Kemudian cinta hadir di antara mereka. Zahra pun disekap dilema, antara kariernya yang menanjak dan gaya hidup Khairi yang konvensional. Dan dalam perhitungan Zahra, cinta akhirnya mengalah. Belum lagi Zahra selesai menyusun kepingan puzzle tentang buku kecil sang kakek yang misterius, datang pula kepingan baru yang ditawarkan oleh orang yang bernama ‘sahabat’ kepadanya. Benarkah kepingan-kepingan itu adalah serupa mozaik yang bersiap menghancurkan ketulusan Zahra? ======================================== Untuk banyak orang karyaku terbaru ini mungkin masuk genre religi, sebagian lagi mungkin menggolongkannya cerita cinta, untukku sendiri lebih dari itu. Ada religi, ada cinta, ada proses pendewasaan, ada indahnya persahabatan, ada mimpi dan cita-cita. Bersama dengan karyaku sebelumnya, teenlit Mencari Ratu Istana Cinta, novel ini yang paling banyak menguras air mata selama proses penulisannya. And this is my husband's favorite too. Dan yang paling penting adalah kepada siapa karya ini aku dedikasikan. Ini untuk almarhum kedua kakekku tercinta, Sukri Barmawi dan Nandang Sumirna. Ingatan pada mereka berdualah yang mendorongku menulis novel yang satu ini. Semoga dapat dinikmati, senikmat aku menulisnya.... Dari dulu aku ini termasuk yang suka malas 'menyiksa diri', hihi. Maksudnya aku malas bersusah-susah untuk urusan penampilan. Orang-orang bisa diet ketat demi kurus, aku males-malesan dan baru gerak cepat kalau udah ngerasa nggak nyaman, misalnya baju jadi kekecilan :-D Orang-orang pada olahraga beraneka jenis, gym lah, aerobic lah, de-es-be biar kurus, aku mendingan olahraga yang ada angkanya deh. Biar ada semangat, ngejar angka, jadi nggak kerasa bosan. Sumpah aku malah stress kalo jogging, kayak nggak ada tujuan gitu lho. Jadi nggak bisa menikmati. Orang-orang pada seneng facial biar mukanya bersih, aku anti facial. Sekali aku facial waktu kuliah, muka bengep, merah n meletek. Sakitnya itu lho. Ternyata kulitku supersensitif. Jadi sorry deh, nggak lagi. Kalo ke salon buat massage, lulur atau creambath sih aku suka, nggak ada unsur 'penyiksaan diri'-nya...malah enak banget. Tapi gara-gara tergiur paket creambath plus facial di salah satu salon, sempet aku nekat facial lagi. Lagian udah lebih dari sepuluh tahun berlalu sejak facial pertama...hihi...setrauma itu aku. Katanya sih aman buat kulit sensitif, soalnya bahan-bahannya natural. Gandum, madu...hmmm...sounds promising, kan? So aku coba lah tu facial. Pertama muka dibersihin dulu pakai air anget....selanjutnya pakai sabun pembersih. Begitu diusapin ke muka, langsung aku teriak. Panaaaas!!! Errrgh, katanya facial untuk kulit sensitif, bahan sih natural, tapi sabun pembersihnya keluaran pabrik buat kulit biasa. Untung gak kelamaan nyuci mukanya. Aku udah niat, next time facial lagi aku bawa sabun sendiri aja. Acara dibalurin gandum ma madunya sih enak. Adem ke kulit. Then the scarriest part....buangin komedo. Aku lupaaa...bener2 lupa kalau facial itu ada acara buang komedo. Mulailah, pencet sana pencet sini. Hasilnya...nangis bombay...Nggak kuat deh. So...cukup itu aja...nggak ada lagi next time...nggak ada lagi deh facial-facial...kecuali bagian buang2 komedonya di-cut. Aku nggak mau 'nyiksa diri' lagi. Hiiii... Terus setelah dicerewetin mulu sama Ira disuruh ke dokter kulit buat ngilangin flek, akhirnya aku nyerah juga. Apalagi di Bandung aku kesulitan cari produk buat kulit sensitif. Nggak kayak di Guardian di KL yang berjejer, Avene, Eucerin dsb. Balik lagi deh ke Aloe Vera-nya Body Shop. Tapi pake produk2 begini berat di ongkos, soalnya daku punya anak yang hobi ngoprek. Pembersih muka di kamar mandi yang masih penuh dikosongin, dimasukin ke ember buat mandi. Krim malem masih penuh tinggal dikit dipake menghaluskan meja. Mangkel banget pas beli laginya. Ini juga penyiksaan, penyiksaan dompet :-( So pergilah daku ke dokter kulit. Sebenernya ini udah kesekian kalinya aku ke dokter kulit. Dulu pernah juga, tapi gak cocok. Baru bentar berhenti. Sekarang sih tekadnya cukup besar, tau diri gitu...udah kepala tiga...Pokoknya aku bertekad nggak akan berhenti di tengah jalan lagi. Harus sampai tuntas! Dateng pertama, disuruh peeling...wah enak juga. Padahal banyak cerita serem katanya abis peeling tuh sakit, merah2, meletek dsb. Kok aku malah ngerasa lembuuut banget ni kulit jadinya. Dengan pedenya dateng dong untuk peeling kedua kalinya. Tapi ternyata..huaaaaaaa....nangis bombay lagi deeh! Sakiiit banget, soalnya kulitnya udah mulai meletek. Ngga kuaaat! Nyampe rumah gosong deh ni kulit. Merah, meletek, kayak baru kebakar aja. Hiks hiks....padahal besok2 banyak acara...gimana keluar dengan muka bengep gini...Sakitnya itu lho. Bener deh, aku salut banget sama perempuan2 lain yang rajin facial, rajin peeling, rajin nge-gym, kuat nggak makan bakso, nggak ngemil....aku baru gini aja udah teriak2. Bener deh, perempuan memang perkasa. Coba...yang sakit tiap bulan, yang bawa-bawa bayi di perut, yang melahirkan, sampai mau tampil oke juga rela sakit....So, siapa bilang perempuan makhluk lemah? I've tried my best to cut the list to 25 books, but no...I just can't do that :-D To make it easier to read, I divided the list based on genres.
COMICs
1. Topeng Kaca Series (Garasu No Kamen) 2. Mahabharata-Bharatayuda-Pandawa Seda 3. Ramayana 4. Candy-Candy 5. Kungfu Boy 6. Pop Corn 7. Detective Conan Series 8. Panji Semirang NOVELS 9. Malory Tower Series 10. Totto Chan 11. The Celestine Prophecy 12. The Life of Pi 13. The Kite Runner 14. Twilight Book 1 15. Harry Potter Series 16. My Sister Keeper 17. Prey 18. Time Machine '19. The Black Magician Trilogy 20. Lord of The Ring Series 21. Supernova Akar 22. Klan Otori Series 23. Conspiracy Theory 24. Rumah Kecil di Rimba Besar & Rumah Kecil di Padang Rumput 25. Little Women 26. Gone with The Wind 27. Winnetou 28. Laskar Pelangi Series 29. Malaikat Keadilan 30. Bu Kek Siansu Series (Kho Ping Hoo), esp. Istana Pulau Es.
NON-FICTION 31. The Last Lecture 32. Even Angels Ask 33. Ultra-Metabolisme 34. Right-Brained Children in a Left-Brained World 35. A Mind at a Time 36. Einstein Never Used Flashcards
Ketauan deh, sampe gede gini masih baca komik...hehe. Udah nggak gencar lagi koleksi sih, sekarang lebih sering minjem aja kecuali serial favorit. Tapi emang koleksi komikku yang paling berharga itu Topeng Kaca, Kungfu Boy, Candy-Candy n Conan. Candy-Candy malah aku punya dua box. Dijual? No way...:-D Aku suka banget baca Topeng Kaca, lihat kejutan demi kejutan yang dibikin Maya Kitajima, kisah cinta serendipity+daddy long legs antara Maya dan Masumi. Candy-Candy karena nonton dari kecil kali ya...tapi falling in love bangetnya sebenernya pas baca komiknya karena ada Terry. Huaaa....kereeen banget! Kungfu Boy...duh, intinya aku sih suka baca komik laga. Dulu aku baca Tiger Wong, Tapak Sakti, love them too, tapi dari gambar aku lebih suka tipikal komik Kungfu Boy. Aku suka Inuyasha, Dragon Ball n Legenda Naga juga, tapi favorit tetep Kungfu Boy. Kalo Pop Corn, ceritanya simple, tapi real banget. Dan dulu aku nangis2 pas Okita mati....hihi. Kalo komik wayang sih, dalem banget artinya buat aku. Dulu koleksi komik wayangku banyak dibeliin Apih almarhum. Bukan sekadar baca, komik wayang ini juga suka jadi bahan diskusi dengan papah dan juga Apih. Biar seri Mahabharata aku baca sampai cicitnya Pandawa, tetep aja yang paling berkesan cuma selama masa hidup Pandawa.
Ntar diterusin lagi deh, kenapa those novels and nonfictions... huah, kayaknya banyak buku berkesan yang belum aku masukin ya...hihi... Tiba-tiba kangen ngeblog....Bukan kangen nulis karena dari kemarin-kemarin juga aku masih tetep nulis. Pengen nulis yang free....yang gak terikat sama alur cerita...hehe... Seperti hari-hari kemarin, Bandung hari ini hujan lagi...di Ujungberung hujan superderas! Petirnya mengerikan banget. Rumahku yang seumur-umur nggak pernah kena petir tadi kena juga. Beberapa keping batu candi di dinding pecah. Jadi ingat pemandangan minggu lalu di Cisaranten dan sekitarnya setelah hujan petir yang mirip hari ini. Jalanan berantakan. Pohon tumbang, plang-plang rubuh, atap-atap rumah banyak yang hancur. Malah satu gedung olahraga yang tinggi menjulang dindingnya sampai bolong besar disambar petir. Udah gitu karena ada urusan tetep nekat juga tadi aku keluar setelah hujan. Anakku seperti biasa excited banget lihat banjir. Jalan raya jadi kayak danau dia teriak-teriak kesenengan,"Water! Berenang!" Ah, Nak...belum ngerti orang-orang lagi sedih karena kebanjiran.... Beberapa bulan di Bandung hidup mulai agak tertata, nggak sekacau pas bulan-bulan awal. Sudah mulai stabil. Jadwal sedikit-sedikit mulai penuh. Yang paling bikin hati berbunga, anakku juga sudah mulai banyak bicara. Ya, biar masih jauh ketinggalan, tapi bisa ngobrol pingpong dua arah walaupun sedikit itu BESAAAR sekali artinya buatku. Very simple communication, seperti ketika dia tiba-tiba narik tanganku sambil bilang, "Tolong!". Terus aku tanya, "Tolong apa?". Dia bilang, "Nyalain!". Aku tanya lagi, "Nyalain apa?". Dia jawab, "Buku!". Oooh, dia minta nyalain ruang buku. Aku tanya lagi, "Mas mau baca?". Dia jawab, "Baca. Baca buku. Nyalain!". See? Very short. Tapi it's a big leap indeed. Sekarang aku bisa ngobrol sebelum tidur. Aku tanya ngapain aja di sekolah. Dia bisa jawab dikit-dikit. Kadang-kadang masih ngebeo, tapi ngejawab juga So basically dia udah tau keuntungan berkomunikasi. Yang seneng, disuruh berdoa pun sekarang udah mau. Padahal sebelumnya mana mau disuruh, semua harus dari maunya sendiri. Bisa baca al Fatihah, al Ikhlas dengan cukup jelas. Alhamdulillah. Yang suka bikin deg-degan, kesenengannya nyanyi keras-keras. Cuek n pede banget. Dimana aja berada. Sesudah sukses membuka kedokku sebagai penggemar Ada Band gara2 nyanyiin lagu Ada Band terus, dia sempet ketagihan nyanyi lagu Mbah Surip almarhum. Padahal sueeeer....aku jarang nyanyiin lagu itu...(pernah siiih, tapi jaraaaang). Abis itu jadi seneng lagu Kuburan. Nah sekarang, tiba-tiba setelah nyanyi Burung Kakaktua, dia ganti lagu..."Aku rela...aku relaaaa....". Na lho? Lagu apaan tuh? Kok kayak lagu Gubug Derita??? "Aku rela walau hidup susah...", tapi nadanya beda??? Setelah orang rumah diinterogasi, ternyata itu lagu Selir Hati. Adoooow...dasar anak-anak. Udah setiap hari talaqqi Qur'an, yang disenandungin kok Selir Hati...gubrak deh. Satu setengah tahun yang lalu, ketika Papa mau menikah lagi, kakak-kakak Prinsy tidak setuju.
"Papa sudah melupakan Mama, ya? Tidak lagi mencintai Almarhumah Mama, ya? Kalo Papa menikah lagi, Hime pergi dari rumah ini!" teriak Teh Hime.
"Tentu saja Papa mencintai Mama. Tapi Mama kan sudah meninggal. Dan kalian tentunya butuh..."
"Oke, kalau Papa mau punya istri baru, bukan mama baru untuk kami, ada syarat-syaratnya. 1. Dia harus lebih jago masak dari Mama. 2. Dia harus pakai kerudung seperti Mama. 3. Dia harus sayang pada kami semua. 4. Dia harus pintar main musik. 5. Karena nama kami semua berhubungan dengan putri dan pangeran, namanya harus berhubungan dengan ratu!" teriak Teh Putri.
Kini Papa datang dengan calon mama Putri, Hime, dan Prinsy lagi. Menurut Papa, wanita ini memenuhi kelima syarat yang diajukan anak-anaknya. Namun mereka tetap menolaknya. Pertama, Mbak Ina adalah kakak musuh Prinsy di sekolah. Kedua, Mbak Ina baru berumur 25 tahun! Cuma beda tujuh tahun dari Teh Putri! =============== My newest teenlit dan bisa dibilang karya favoritku sejauh ini. Kutunggu review-reviewnya! Kirim link review ke emailku: booksbytria@gmaillcom . Review terbaik akan mendapatkan hadiah menarik dariku.  | Sedih | Jul 9, '09 11:32 AM for everyone |
Ya Allah, rasanya air mata minggu ini nggak abis-abis... baru aja beberapa hari lalu Mak Idoh, uyutku, meninggal dunia. Usianya memang udah entah berapa. Kayak Mak Irah, udah nggak ke-track. Dari dulu setiap ditanya berapa umurnya jawabnya 90. Sepuluh taun lalu 90, sekarang masih 90....Aku terus keinget-inget saat terakhir ketemu beliau. Badannya udah ringkih sekali. Tapi beliau seneng sekali ditengok buyut, cerita macem-macem. Rasanya aku masih inget aku mijet tangannya dan berpikir...udah tua sekali uyutku ini, apa beliau nggak merasa kesepian... Umur memang nggak bisa diduga. Sebelum Mak Idoh meninggal, Mak Irah, kakaknya, lebih dulu jatuh dan masuk rumah sakit. Sampai sekarang kondisinya masih belum pulih. Tapi Mak Idoh yang sakit-sakitan karena tua akhirnya pergi duluan. Aku nggak bisa bayangin perasaan Mak Irah... Hari ini dapet kabar duka lagi, Bude suamiku pun meninggal dunia. Padahal rasanya belum lama kami mengunjungi beliau. Ketemu beliau, ngobrol. Wajahnya kebayang-bayang terus di benakku. Beliau punya senyum yang teduuuh sekali. Aku jadi teringat-ingat Oma Niaku tercinta yang juga sudah tua...teringat Mak Irah yang tengah sakit...teringat orangtuaku... Di sesi pengajian tafsir tadi kita membahas ayat tentang berbuat ihsan. Perintah berbuat ihsan pada orangtua, kerabat, dsb. Dan ihsan bukan sekadar memenuhi hak. Ihsan adalah memberi seseorang lebih dari haknya. Aku terus kepikiran....sudah sejauh mana aku berihsan pada mereka? Bahkan memenuhi hak saja aku masih sering lalai. Haa? Siapa tu si Aji?? Ssst...jangan ngegosip dulu...inget yaaa...ngomongin yang bener2 itu gosip n yang gak bener itu fitnah, hehe... Anyway, ini perkenalan pertamaku sama si Aji.
Setting: lotek Bu Sunarso Nonton Bu Sunarso ngulek gado-gado. Aku: "Bu...jangan pake MSG ya..." Bu Sunarso: **nggak mudeng, bengong doang** Aku: "Vetsin, Bu. Jangan pake vetsin ya..." Bu Sunarso: **tambah nggak mudeng** Aku: **mulai bingung** "Itu Bu, pecin..." Bu Sunarso: "Apa itu?" Gubrak....sempet berprasangka baik jangan2 beneran gak pernah pake MSG nih. Tapi akhirnya kutemukan. Satu kaleng penuh MSG! Aku: "Ini lho, Bu!" Bu Sunarso: "Ooooooh! Aji!" Hah? Aji?? Rupanya Aji is the nickname of Ajinomoto...wah. Kayak Supermie aja nih, semua mie instan dibilang supermie. Atau pepsodent, semua odol dibilang pepsodent.
Dari situ mulailah hari-hariku dengan si Aji ini.
Setting: di warung makan tomyam di pinggir jalan Aku: "Kak, masaknya tak guna Aji ya!" Pelayan: **bingung, ampe beberapa kali balikan nanya lagi** Akhirnya masakan datang. Rasanya hambar.
Setting: di warung bakso Aku: "Jangan guna Aji, ya!" Pelayan: "Macam mana lah tak guna Aji, nanti tak de rasa lagi?" Aku: "Guna lah garam dengan gula tu..." Akhirnya masakan datang. Rasanya hambar bar bar bar.
Setting: di food court Aku: "Tak guna Aji ya, Kak..." Pelayan: "Sini memang kita tak guna Aji lah. Tapi nasi ayam dan sup memang pasti guna, sikit je..." Seneng sekali kalo udah ketemu pelayan jujur. Lesson learned, kebanyakan stall nasi ayam & sup pakai MSG.
Gara-gara si Aji ini, aku sering dipandangi dengan ekspresi aneh, disangka cerewet dsb. Ah, susahnya kepengin hidup sehat.... Kadang suka gemes liat anakku ini yang suka belaga gak denger. Padahal kita tahu dia denger kok. Dipanggilin cuek aja, apalagi kalo udah di depan komputer. Bukan karena kurang kontak atau apa, tapi emang dianggapnya gak ada untungnya buat dia noleh. Jadi kudu sering puter otak. Aku: "Ikeeeel, mau bakpia nggak?" Ikel: *cuma ngelirik bentar terus dengan juteknya terus maen game* Aku: "Ikeeeel! Enak lho! Mau nggak?" Ikel: **boro-boro ngelirik, terus aja maen**
terus bapaknya keluar dari kamar n mendekati meja makan. Hmmm.... Aku: "Ikeeel! Bakpianya mau diabisin Papa lho!" Seketika itu juga Ikel matiin komputernya n langsung lari ke meja nyamber bakpianya. Diabisin ampe ludes des des...terus main lagi.
Terus di sekolahnya, dia disuruh gambar temen deketnya. Digambarlah tiga orang, Shakeela, Marvel dan Nabila (sepupuku yang seumur Ikel). Shakeela, dia warnain rambutnya item, bajunya pink. Persis kayak Keela sehari2. Eh, giliran Nabila dia ngotot cuma satu warna aja yang dia pake: coklat! Dari rambut sampai kaki diwarnain coklat :-D Emang rambut Nabila kemerahan (korban kelakuan iseng adikku yang ngewarnain rambutnya terus gak bisa ilang-ilang sampe sekarang) dan kulitnya gelap. Duh, padahal udah lama gak ketemu Nabila. Berbekas sekali rupanya si kecil berambut merah itu...hehe...
Kemarin dia pulang bawa hadiah ulang tahun. Hah? Bukannya ultahnya udah lewat 1 minggu lebih? Ternyata ada temen perempuannya yang ngasih hadiah lagi. Lagi, karena sebelumnya dia udah ngasih hadiah. Hadiah pertama, dia buat lukisan sendiri khusus buat Ikel. Bikin emaknya bengong abis gambarnya penuh love-love. Terus dia kasih magnet kayu inisial M (Mikail). Yang kedua ini, emaknya tambah bengong. Dia ngasih pajangan dua sapi merah yang adep-adepan pake per terus kalo kita goyangin si dua sapi merah itu kissing. Muah muah muah...**kejedug-jedug maksudnya** Wadaw....untung anakku gak nanya2 kenapa tu dua sapi mesti jedug2an begituh.
Memoriku udah payah juga nih, lupa banget kapan ya pergi ke Pangkor itu. Yang jelas pesertanya my family n Teh Tintin's. Ada long weekend waktu itu jadi melesatlah kita. Berbekal informasi dari internet, kita ambil jalan tembus lewat Bidor buat menuju Lumut. Bisa hemat waktu lumayan banyak daripada keluar tol di Lumut, muter-muter. Tapi buat lewat jalan tembus ini nggak disarankan buat pergi malam hari karena bukan jalan rame. Dasar kita bandel, alih-alih pergi pagi kita malah pergi sebelum subuh. Jadi biar bukan malem tetep aja judulnya gelap. Kita mulai perjalanan sekitar jam 4 atau 4.30 gitu. Jalan tol oke-oke aja, karena lebuhraya Utara-Selatan memang bagus dan komplit fasilitas R&Rnya. Baru begitu keluar Bidor, menyusuri jalan yang ternyata nggak bagus-bagus amat, jadinya nggak bisa kenceng-kenceng juga. Sepi lagi. Kita sempet sholat subuh di jalan terus lanjut ke Lumut. Sampai Lumut masih pagi banget. Udara segeeer banget. Terus parkir mobil di salah satu gedung yang ada secure parkingnya. Ternyata penuuuuuh banget, mentang-mentang long weekend. Baru deh mulai agak ketar-ketir, soalnya belum punya hotel (biasa turis nekat). Ada tiga counter buat beli tiket jetty ke pulau Pangkor, aku langsung aja antri di yang paling deket dan beli tiketnya. Murah sih, 10RM buat 1 orang dewasa return. Baru kemudian sadar bahwa ternyata ada dua perusahaan ferry yang beroperasi, Mesra dan Duta itu jadi satu, terus satu lagi Silverfish kalo nggak salah. Soal ferry ini aku jadi nggak mau lagi naek Mesra atau Duta, karena pengalaman buruk pas mau pulang. Itu ferry udah penuh, udah overload, terus aja didedetin penumpang. Kayak angkot aja. Tapi angkot kan di darat!! Si jetty ini rasanya udah tenggelam sebagian aja. Aku udah marah-marah, sebel banget. Begitu sampai di pulau Pangkor kita cari-cari mobil buat disewa. Lagi-lagi dadakan. Dan kali ini kena batunya karena ternyata susaaah banget nyarinya, udah pada disewa. Setelah nunggu lama di terminal akhirnya dapet juga. Iswara tua. Karena peak season sewanya mahal juga, 100RM sehari, tapi kita tawar akhirnya boleh lebih dari 24 jam. Dan bayangin aja dua family numpuk di satu Iswara :-D Ternyata ampir semua mobil sewa disini Iswara tua, kayaknya bekas taksi KL. Dan suami2 kita terpaksa kerja keras, ngangkut beban segitu banyak, steering by power lagi! Gak ada power steeringnya!! Waktu mau ngisi bensin sempet terpesona liat pom bensinnya. Duh, inget jaman dulu banget. Pom bensinnya juga kuno gitu. Nah terus kita langsung menuju ke arah pantai yang paling rame. Nyari-nyari chalet dulu, pada penuh juga. Ini nih akibat suka dadakan. Tapi akhirnya dapet juga di Pangkor Rimba Kem (http://portalpangkor.com/prk.htm). Lumayan, RM120 dapet satu kamar gede isi 2 bed gede juga yang bagian bawahnya bisa dipake tidur juga. Total-total jadi banyak kasurnya :-D Untung kamarnya gede. Dan nggak nyesel banget dapet tempat disini, pantai di depannya bagus banget. Ternyata chalet ini satu-satunya yang tepat menghadap Coral beach. Banyak orang kemah juga di depan chaletnya. Suasananya juga natural banget. Banyak monyet...(walaupun deket condo sendiri juga masih banyak monyet), dan bisa liat hornbill nangkring di pohon tepat di depan pintu kamar. Abis istirahat bentar kita langsung cari makan. Nemu juga pas di tempat rame, murah meriah n lumayan enak. Eits...nggak nyangka banget, ternyata baju-baju pantai yang dijual di kedai-kedai sepanjang pantai oke-oke juga. Nggak terlalu mahal n kualitasnya juga bagus. Jadi banyak godaan deh...:-D Anyway, abis makan kita langsung ikutan boat trip. Murah juga, 10RM per orang dewasa, 5RM buat anak-anak. Kita diajak keliling liat berbagai pulau kecil, terus berhenti di satu pulau, liat orang-orang snorkeling. Airnya emang jernih. Keliatan ikan-ikan lagi pada berenang. Terus dibawa ke pulau lain, lupa namanya dan ditinggalin satu jam buat berenang disitu. Ikel n Shakeela langsung heboh. Sayangnya disini banyak karang, jadi kalo nggak ati-ati milih pijakan bisa cedera juga. Tapi keren sih, airnya bersih, bening, keliatan binatang-binatang lautnya. Cuma kaki luka-luka.... Besok paginya barulah kita main di pantai Coral tepat di depan chalet. Dan ternyata pantainya lebih bagus lagi. Banyak ikan, kepiting sama bintang laut. Kepitingnya kerasa lari-lari di kaki. Berhubung pagi-pagi air surut, pulau yang kemaren keliatannya di tengah lautan pun jadi bisa ditempuh jalan kaki. Suamiku nyebrang dan katanya ngeliat banyak ubur-ubur warna-warni. Anak-anak antusias banget main di pantai ini. Setelah puas main di pantai baru kita check out, makan di tempat yang sama dengan sebelumnya, n lanjut buat keliling pulau. Bener-bener menyusuri pulau pake mobil tua dengan muatan berlebih itu. Dan ternyata lama-lama jalannya makin mengerikan. Setelah masuk jalan perkotaan eh tiba-tiba mobilnya mati. Untung juga bukan pas tadi di tanjakan n turunan. Akhirnya kita telepon orang yang nyewainnya dan minta mobil ganti. Dateng juga setelah beberapa lama, mobil gantinya sama juga, Iswara tua. Terus kita lanjut ke kuil Fu Lin Kong. Disini aku malah kecapean olahraga ngejar Ikel yang naik turun lari-lari penuh semangat. Terus lanjut lagi ke Dutch Fort. Mana ya fortnya? Ternyata udah tinggal dikit banget bangunannya. Duh... Abis keliling-keliling pulau baru kita pulang ke Lumut. Setelah bertegang-tegang naik ferry yang overload itu rasanya lega banget bisa nginjek daratan lagi. Sempet belanja makanan dulu terus pulang deh. Must try: boat trip! Lagi mikirin gimana caranya bawa buku2ku balik ke Indonesia kalo aku mesti balik for good, ya? Dulu mikir setiap pulkam nyicil harus bawa buku pulang. Ternyata dari KL bawa buku dari Bandung bawa buku lagi. Mana disini sale mulu lagi... Kirim per-kg bisa bangkrut. Kirim sistem box...diitung-itung perlu berapa box? Gile juga. Container...nggak sanggup bayarnya... Akhirnya coba diitung...ada berapa buku sih...keliatannya gak banyak, cuma ada 3 rak buku kok biar yang satu nyaris roboh. Dari tadi ngitung...udah sampe 900 lebih, belum termasuk yang lagi dipinjem2 n majalah2...huaaaaaaaaaa!! Padahal sejak bigbadwolf books sale kemaren aku udah bener2 puasa gak beli buku. Gak usah dibawa? Enak aja....nggak lah yaaa..... Ada yang tau harga half container dari KL ke Bandung?
Catatan perjalanan yang terlambat sebenarnya. Tapi aku pikir sayang kalau disimpen sendiri. Aku pengin share semua riwayat traveling selama di Malaysia ini. Rencananya cerita perjalanan ini mau aku bagi berdasarkan jalan tolnya...hehe...aneh banget nggak sih? Sebelumnya kan pernah share tentang perjalanan liburan kami menyusuri pantai timur Malaysia. Jadi menyusuri pantai timur ini kita ngambil tol Timur-Barat. Ada tempat2 lain yang kami kunjungi melalui tol ini seperti Genting Highland dan Bukit Tinggi. Nanti ceritanya menyusul aja. Berikutnya aku mau share perjalanan menyusuri jalur barat/utara melalui tol Utara-Selatan. Sebenarnya liburannya juga kebagi jadi empat waktu, satu ke Cameron Highland, satu ke Pulau Pangkor, satu ke Ipoh dan satu lagi perjalanan Penang-Taiping-Bukit Merah. Tapi yang paling panjang dulu deh... Eh, tapi sebelum ada yang berbaiksangka, mikir duh si Tria ini kok banyak duit banget ya jalan2 mulu...amiiin...:-D Sebenernya jalan2ku ini semuanya tight-budget version. Prinsipku gak perlu mewah yang penting seneng. So bisa juga dicontek kalo ada yang mau traveling dengan budget terbatas. Bukan backpacker murni soalnya kita udah berkeluarga. Tapi sebisa mungkin kita selalu milih akomodasi ber-AC, apalagi kalo ke pantai, demi si kecil. Penang-Taiping-Bukit Merah Lama perjalanan: 3 hari 2 malam Waktu: kapan ya? Kok aku lupa. Kalo gak salah bulan Maret 2009 (atau April?) Peserta: me, my hubby, Ikel, Nur, my Pa, k’Rahmat, T’Tin2 & Shakeela Sadar diri karena bawa Papah n karena musim libur, kali ini kita booking duluan. Ternyata tetep aja lelet, ampir semua tempat yang diincer udah penuh. Duh, beginilah kalo bikin acara liburan dadakan. Akhirnya dapet satu unit apartemen di Batu Ferringhi, 3 kamar, RM220. Good deal. Sayangnya cuma kosong buat 1 hari aja. Ternyata tempatnya memuaskan banget. Bukan condo mewah atau resort keren, tapi value for money. Mau ke pantai tinggal jalan. Dan ternyata ownernya rapi banget. Apartmentnya bersih dan peralatannya lengkap. Tiga kamar semuanya ber-AC. Perjalanan menuju Penang, capek juga. Untungnya lebuhraya utara-selatan ini pemandangannya asyik dan tempat2 pemberhentiannya juga bagus-bagus. Dan ternyata menjelang sampai malah macet!! Sempet pakai acara nyasar segala ke kotanya. Tapi akhirnya sampai juga di Batu Ferringhi dan langsung ke apartemen. Terus ternyata perut udah kruyuk2. Karena katanya yang khas dari Penang itu Nasi Kandarnya, melesatlah kita mencari nasi kandar. Tanya sana tanya sini dapet yang paling deket apartemen, ternyata di sebuah ruko. Namanya Khalil Nasi Kandar. Enak sih, cuma rasanya nggak sreg banget lagi liburan di pinggir pantai makannya di ruko. Ruko sih di KL juga ada kita pikir… Abis itu kita keliling-keliling. Mau masuk hutan alamnya ternyata kudu hiking, duh nggak deh. Saltum, capek lagi. Terus lewat butterfly farmnya, ternyata mahal L Mana gak dikasih harga lokal, padahal di KL aku selalu dapet harga lokal. Rese ah, gak jadi deh kesini. Akhirnya berhenti di Tropical Fruit Farm. Tapi salah musim, gak ada juice duren :-D Lanjut lagi kita main di pantai. Pantainya sendiri lumayan lah. Dibanding pantai timur sih jelas kalah. Malemnya kita makan malem di pinggir pantai. Enak banget! Aku ngabisin saus ikan tiga rasa sampai syehah-syehah kepedesan (tapi ketagihan). Abis itu langsung melesat ke bazaar Batu Ferringhi. Bazaar malam di sepanjang jalan, rame banget. Awalnya nggak expect too much. Ya bazaar gitu lho, model2 di Petaling Street. Tapi ternyata lebih murah dari Petaling Street! Cuma emang kudu nawar2 gila, langsung jebret 50%. Ada kaos polo persis sama yang aku beli di FO Bandung 100rb lebih disitu dapet 20RM. Barang2nya juga lebih bagus dari di Petaling Street rasanya. Begitu pulang kita baru diskusiin mau ngapain besoknya. Hehe, nekat banget ya. Kembali ke model dadakan. Kita mikir apa mau lanjut ke Langkawi atau terusin di Penang dan lanjut ke daerah Ipoh. Akhirnya keputusannya kita mau lanjut dulu ke daerah kota Penang. Pagi-pagi check out terus lanjut ke Georgetown. Di jalan sibuk nelponin hotel buat nginep di Georgetown. Yah, as expected, pada penuh!! Finally, we got one. Cathay Hotel, RM80 semalem. Aku ngebayangin kamar kecil dengan satu double bed atau dua single bed. So aku bilang kayaknya kita perlu 3 kamar karena ada 6 dewasa dan 2 anak. Tapi receptionistnya bilang liat aja dulu, dia booking-in dulu buat 2 kamar. Disitu aku udah terkesan, jujur banget hotelnya, gak sekadar cari untung. Kalau cari untung doang dia pasti langsung oke-in 3 kamar. Sebelum ke hotel kita ke Bukit Bendera dulu. Ngantri banget beli tiketnya. Udah gitu yang kosong baru jam 2, padahal jam segitu pasti lagi panas-panasnya. Akhirnya aku beli yang sore. Lalu kita balik ke kota, mau ke benteng ternyata tutup. Akhirnya jalan2 di mal cari oleh2. Sebelumnya ada yang ngasih saran disuruh ke Komtar, ternyata nggak banget. Isinya udah gak jelas gitu. Tapi dapet juga kaos2 Penang gitu lumayan murah disitu. Eh malah Papah yang keasikan belanja beli oleh2 buat Mamah, di Parkson lagi! Parkson mah di KL juga ada…:-D Habis itu kita check in dulu ke hotel. Ternyata hotelnya susah juga dicari, hehe, karena kita yang emang gak familiar sama kota Georgetown. Jalannya banyak satu arah, kayak di Bandung aja. Udah ngebayangin hotel model2 di KT dulu, kecil sempit, seadanya. Ternyata begitu sampai agak amaze juga. Bangunannya antik banget. Ngingetin aku sama FO Heritage di Bandung. Serba putih, langit-langitnya tinggi, pintunya juga guedeee. Cuma…mmm…kok rasanya agak spooky ya?? Begitu masuk tambah serrr aja. Yang jaga semua udah tua! Rambutnya udah pada putih, malah yang mau bawain koper jalannya juga mulai bongkok, sampe gak tega. Karena aku suka bangunan2 heritage gitu, buatku hotelnya keren. Tangganya guede, gak ada lift, tapi emang cuma dua lantai sih. Void dari lantai dua ke lantai bawah gede dan ada sinar matahari masuk ke tengah-tengah ruangan. Kita dapet kamar di lantai dua. Oops…sepinya. Dan pintu masuk kamarnya juga gede n tinggi banget. Nggak nyangka ternyata kamarnya juga luaaas banget! Pantesan aja receptionistnya bilang gak perlu 3 kamar. Satu kamar ada dua double bed dengan kamar mandi ber-bathtub. Ber-AC lagi. 80RM!! Waw. Forget the spooky-creepy part, that was a real deal! Beberapa review dan gambar yang aku dapet tentang hotel ini: http://globespotters.blogs.nytimes.com/2008/03/06/the-cathay-hotel-penangs-magnificent-pile/ http://www.zoom2see.com/2008/07/penang-budget-hotel-cathay.html Balik lagi ke Bukit Bendera. Aku udah rada sakit perut bagian bawah aja ngeliat kereta dari bawah. Tinggi banget!! Tapi di dalemnya sih santai-santai aja. Cuma rasanya gak sampe-sampe. Baru begitu sampai atas kita lihat pemandangan, kereen! Malemnya kita jalan, dijemput sama temen t’Tintin yang tinggal di Penang di Bukit Bendera. Keliling-keliling liat Penang di waktu malam dari atas. Bagus banget. Terus kita kelaperan. Sempet bilang kepengin nasi kandar. So kita konvoy, dipandu sama suaminya temen t’Tintin. Mobil masuk ke daerah ramai. Dari jauh kita melihat papan yang rasanya familiar. Eh…udah mulai curiga nih. Dan ternyata benar. Kita berhenti di depan Khalil Nasi Kandar! Bukan tempat yang sama, yang di hari pertama itu kan di Batu Ferringhi, yang ini di kota. Tapi ya resto yang sama :-D Ternyata resto ini yang paling beken n banyak cabangnya. Tapi kali ini menunya lebih banyak n enak lagi…hehe, gak nyesel deh. Gak apa2 di ruko lagi juga….;-) Abis makan masih keliling-keliling, ternyata semakin malem semakin rame. Lewat Queensbay Mal, berhenti terus liat pemandangan. Pemandangannya sih biar gelap tapi keren, tapi kok ya banyak banget yang lagi berasyik-masyuk ya…hihi, bahasanya…ya itu lah maksudnya. Lagi pacaran… Udah jam sebelas malem, tapi kita masih terus jalan. Lanjut ke Gurney. Ternyata masih rame banget. Orang-orang lalu lalang, tempat makannya juga penuh. Akhirnya nyerah juga. Balik ke hotel. Udah ngantuk berat. Sempet saling nakut-nakutin, gimana kalo malem-malem ada yang loncat-loncat kayak vampir di film mandarin?? Tapi ternyata begitu nyentuh bantal langsung lelap :-D Pagi-pagi kita udah check-out terus keliling cari makan pagi. Abis itu kita ngunjungin Sleeping Buddha temple. Masih juga pake acara nyasar2. Tapi dapet juga akhirnya. Kita masuk, liat patung yang gede banget itu. Terus aku jalan-jalan ngiterin ruangan tempat patung n baru ngeh ternyata di dalemnya tuh tempat penyimpanan abu. Baru sadar begitu liat di setiap kotak2 yang di dinding itu ada foto n waktu hidup si empunya abu. Oow. Sampe jaman duluuu banget. Tapi gak sempet ngeri2an, kita malah asyik foto-fotoan di dalem. Terus aku masuk juga ke kuil di seberangnya. Biasa aja sih, bagusan yang sebelumnya. Dari situ sempet mampir dulu ke mal kecil, cari dvd, terus makan siang. Lanjut…kita menuju Bukit Merah. Bukit Merah ini dari Penang nggak begitu jauh. Dari keluar tolnya juga gak begitu jauh, nggak mendaki-daki lama kayak Bukit Tinggi. Sampai disana kita pesen tiket yang combo buat Orang Utan Island, Ecopark sama ridesnya. Pertama-tama kita naik jetty dulu menuju Orang Utan Island. Duh nggak nyesel deh, seneng banget kesitu. Pengunjung yang dikerangkengin, sambil liat orang utan bebas loncat-loncat, gelantungan dsb. Ada yang sereem banget orang utannya, katanya tenaganya 10x tenaga laki-laki dewasa. Terus ada sekolah orang utan. Buat yang udah agak gede sekolahnya juga di alam terbuka gitu. Buat yang masih kecil ada sekolah dari tahap-tahap gelantungan sampe cari makan, lucu deh. Yang paling lucu, ada bayi-bayi orang utan. Dikasih diaper kayak bayi manusia, terus minum pake botol susu juga. Agak miris juga karena orang utan ini justru banyak di tanah air kita, tapi kok gak pernah denger ada reservasi kayak gini ya di kita. Atau aku aja yang nggak tau?? Abis itu kita naik sky-cycle. Duh nyesel deh. Ternyata kudu ngayuh. Capek bo! Boro-boro nikmatin pemandangan. Kasian suamiku, aku gak kuat ngayuh lama2…hehe… Terus naik chairlift. Model cable car gitu tapi kursi doang, ngelilingin park. Tapi kok…mendung ya? Oow. Rintik2! Dan akhirnya ujan, gedeee banget! Untung aku nyaris sampe jadi cuma kena bentar. Tapi akhirnya tetep basah kuyup begitu mau masuk shuttle. Setelah ganti baju, shalat dan makan malam, kita lanjutin lagi perjalanan. Next stop, Taiping Night Zoo. Buat ke Taiping ini kita masuk lagi tol dan keluar ngikutin signboard Taiping Night Zoo. Udah gelap, ujan lagi. Kali ini kita kecele karena ternyata dari tol ke night zoonya jauuuuh bener. Begitu sampe agak bingung gitu. Kok sepi ya?? (iya lah, malem gitu lho!) Tapi ternyata di dalem ada rombongan sekolah. Di zoo-nya ya begitu aja. Naik bus, ngiterin zoo di malem hari. Binatangnya sih tetep di balik pager. Aku nyaris kecewa kalo nggak liat ternyata anakku seneng! Mungkin karena sepi n gelap jadi dia fokus liat binatangnya. Di zoo yang biasa dia nggak pernah seantusias itu, teriak2 elephant, camel dsb. Pulang, udah malem banget!! Cuapeeeek…akhirnya acara holiday barengnya ditambah satu malem di…Sri Putramas 2! :-D Kebetulan rumahku lebih deket dari tol utara-selatan. Eh dasar bukannya tidur segitu capeknya, nyampe rumah malah pada nonton film! Best deal: Cathay Hotel Most memorable place: Khalil Nasi Kandar! Best destination: Orang Utan Island & Bukit Bendera Must-try: Rojak Pasembur List dulu deh...
Jodi Picault's: - Change of Heart - Handle with Care
Meg Cabot's: - Princess Diary 5, 6, 7, 8, 9 - Tommy Sullivan is a Freak - How to Be Popular - Airhead
Others: - Penelope by Marilyn Kaye - The Last to Know, Melissa Hill - The Alexandria Link by Steve Berry - Ten Things I Hate About Me by Randa Abdel-Fattah - The Book of Names Jill Gregory-Karen Tintori - The Bone Garden by Tess Gerritsen - Bad Luck and Trouble by Lee Child - Why Men Don't Listen and Women Can't Read Map by Pease - Lucy Sullivan is Getting Married by Marian Keyes - The Road to Empire, Sinta Yudisia - Jodoh dari Negeri Seberang, Rahmadiyanti Rusdi dkk - Rahasia Kaum Falasha, Mahardhika Zifana - Seeking Truth Finding Islam, Anwar Holid - Indie Kidd series, by Karen McCombie - The Gatecrasher, by Madeline Wickham (Sophie Kinsella) - Parenting your Defiant Child by Kazdin
apa lagi ya...perasaan ada yang ketinggalan... anyway...hampir semuanya bagus! Pengennya sih review satu demi satu, tapi apa daya waktu nggak ada.... Jadi aku pilih beberapa untuk aku komentari. Bukan selalu yang paling bagus, tapi aku memilih point2 menarik yang bisa aku pelajari.
1. Handle with Care by Jodi Picault Setelah banyak membaca karya Jodi Picault setelah The Sister's Keeper, satu ini yang mengingatkan aku kembali akan kekuatan novel Picault. Tema pergolakan batin dan moral yang mengharu biru serta karakterisasi yang sangat kuat. Kadang aku dibawa begitu kesal sama si ibu, tapi di kala lain juga dibawa memahami perasaannya dan ingin orang lain mengerti apa yang tengah dia perjuangkan. Sangat menyentuh. Sudut pandang menarik dimana semua tokoh seperti tengah bernarasi yang ditujukan pada Willow, si gadis kecil penderita Osteogenesis Imperfecta. Hal yang mengganggu: resep-resep masakan. Bukan karena aku nggak suka masak, tapi rasanya jadi mengganggu proses membaca.
2. The Last to Know by Melissa Hill Sinopsisnya agak menipu, jadi bikin praduga yang ternyata salah besar :-D Yang menarik dari buku ini adalah alur, dimana cerita dituturkan dalam bentuk naskah. Yes, naskah di dalam naskah. Naskah yang ditujukan pada seorang literary-agent. Ternyata naskah itu berkaitan dengan hidup si agen. Menarik dan lumayan bikin penasaran.
3. Penelope by Marilyn Kaye I Looove this! Walaupun buku ini adaptasi dari screenplay, tapi aku enjoy banget bacanya. Dan ide ceritanya memang menarik. Simple tapi kreatif. Fairy-tale yang disesuaikan dengan jaman modern. Ada kutukan, ada "putri", ada "pangeran". Ah, sweet story!
4. The Road to Empire by Sinta Yudisia Setelah kecewa karena novel sejarah sebelumnya yang kubaca narasinya terlalu maksa, karya Sinta Yudisia ini membuatku terhibur. Sejarahnya gak dipaksain keluar dari dialog, tapi terjalin dalam alur cerita. A very recommended one.
5. Why Men Don't Listen and Women Can't Read Map by Allan & Barbara Pease Seperti halnya buku Mars&Venus, buku ini banyak ngasih input soal perbedaan pria & wanita. Masuk tambahan buku yang harus dibaca buat para pengantin baru :-D Tapi aku rasa semua yang menikah harus baca buku2 kayak gini buat memperbaiki komunikasi dengan pasangan. Satu bagian favoritku adalah bagaimana wanita selalu berkata tidak langsung. Ketika di tengah jalan tol dia menawarkan suaminya yang sedang menyetir untuk berhenti dan minum kopi, suaminya memilih untuk terus, tapi lalu si istri cemberut. Suaminya bingung terus nanya kenapa si istri ngambek. Istrinya bilang, "Kamu nggak berhenti!". Suaminya tambah bingung, kan tadi dia udah bilang dia nggak mau minum. Terus istrinya bilang, "Tapi aku kan mau minum..." :-D haha...cewek bangeeeet!!
6. The Alexandria Link by Steve Berry Wow. Abis baca novel ini I couldn't stop googling. Gimana bisa sebuah novel yang menuliskan kekejaman Israel secara gamblang bisa lepas dari ribut2? Ternyata emang ada ribut2 soal novel ini, terutama serangan dari pihak yang pro-zionis. Dan review2 tentang novel ini banyak sekali yang negatif. Menyerang dari sisi karakternya lah, ceritanya lah, sampai faktanya. Padahal buat aku yang penggemar novel sejarah & konspirasi, buku satu ini menarik untuk diikuti.Not a perfect writing, tapi juga jelas bukan karya amatir.
7. Airhead by Meg Cabot Gak sopaaan....kok nyambung?? Mana sambungannya belum ada disini lagi :-( Tapi seperti biasa Meg Cabot selalu membuat karakter yang gampang diingat.
8. Rahasia Kaum Falasha, Mahardhika Zifana Buku lain yang membuat aku googling terus dan berhasil dapetin beberapa e-books yang berkaitan dengan the ark of the covenant. Idenya menarik, sayang ceritanya masih kurang menggigit. Beberapa fakta dibuat terlalu gampang untuk muncul. Ketika tokoh antagonis menjelaskan siapa mereka misalnya, kerasa dongeng banget. But seriously, it's a good start.
9. Parenting your Defiant Child by Kazdin Buku ini menolong banget buat bantu aku handle anakku. Very recommended reading for parents. Apa dan gimana sebenarnya punishment, efeknya buat anak dan buat kita. Untuk siapa sebenarnya punishment, untuk kebaikan anak, atau kepuasan kita? Punishment yang gimana yang mendidik itu? Buku paling berharga yang aku dapetin dari sale kemaren.  | Pelupa? | Mar 4, '09 12:12 PM for everyone |
Minggu lalu aku ngedatengin stand iridologist di sebuah pameran, minta mataku diperiksa. Aku tau ada pihak2 yang bilang iridology itu nonsense, gak masuk akal dsb-dsb. Tapi menurutku ini salah satu alternatif, kenapa nggak dicoba, toh nggak menyakiti dan menyusahkan. Dan banyak yang mendalami, berarti it does have something. Nggak semua hal bisa dijelaskan secara ilmiah. So I decided to give it a try. The result was quite amazing. Aku nggak ngomong apa-apa sebelumnya. Si ahli cuma ngelihat hasil foto irisku, terus nunjuk beberapa tempat. Generally, I'm quite healthy for my age. Tapi kulitku sangat sensitif, katanya. Alergi. Yups, point pertama, kulitku memang alergian parah. Terus dia nunjuk bagian atas iris. Aku sering migrain katanya. Yups lagi, point kedua. Itu juga yang bikin aku dirumahsakitkan akhir tahun kemarin dan sampai akhir gak ketahuan sakit apa walaupun udah MRI. Terus yang lain oke...sampai di bagian uterus. Katanya aku ada sedikit masalah di uterus, gak tahu apa, mungkin periodeku nggak teratur. Ya, betul banget. Periodku memang sering ngaco. Dan guess what, dia nggak tau aku punya masalah secondary infertility. But that uterus problem did give a clue. Terus balik ke masalah sakit kepala tadi, ada efeknya katanya, aku mungkin pelupa banget. Duh, saat itu sih aku mikir2...aku memang pelupa, tapi banget nggak ya? Kalo keluargaku denger kayaknya pasti udah sorak-sorak mendukung si ahli. Tapi aku ngerasa akhir2 ini aku udah jarang lupa-lupain sesuatu.
Till two days ago.
Ceritanya aku ke Ikea, terus sholat. Selepas sholat, aku cari sandal hitamku. Itu dia. Tapi lho, aku bingung, kok sandalku jadi kecil? Ya ampun. Rupanya ada yang ketuker sandal sama aku. Pasti orang itu nggak sadar dia pake sandal kegedean! Aku coba pake sandal itu. Duh, ukurannya jauh banget. Kakiku gak bisa masuk, jadi gak bisa maksa. Aku bingung banget. Ngintip keluar, siapa tahu ada orang yang balik lagi pake sandalku. Ini kedua kalinya ada yang pake sandal sama denganku di tempat sholat. Rupanya sandalku itu pasaran. Nyusahin juga ternyata. Akhirnya aku bolak-balik di tempat sandal, bingung mikirin gimana cara jalan pake sandal kekecilan. Apa perlu aku teriak aja keluar, siapa yang ketuker sandalnya sama aku? Atau diumumin ke customer service gitu? Lagi pusing-pusingnya mikir, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu. Sepasang sepatu berwarna putih yang rasanya familiar. Astaghfirullah! Itu kan sepatuku! Ya Allah, aku baru sadar. Hari ini aku kan pakai sepatu! Aku langsung make sepatu putihku cepet-cepet, terus lari keluar secepat mungkin. Malu :-D Kayaknya sih gak ada yang ngeh, tapi siapa tau ada yang bingung ngeliat aku bolak-balik di tempat shalat sambil pake sandal kekecilan. Ugh...ternyata pelupaku kambuh lagi....huaaaaaaaaa..... 
Berjilbab nggak berarti kamu nggak bisa keliling dunia! * Agar Perjalanan MUDAH, MURAH bahkan GRATIS, tapi tetap AMAN bagi muslimah * Kisah seru, lucu dan haru si jilbab traveler! * Info komplit wisata ke Korea, Rusia, Amerika, Cina, dll * Secuil kamus ‘survive’ di negeri orang * Jurus cepat membaca peta ala Scott Sugawara * Intinya: jangan jalan-jalan sebelum baca buku ini! Sinopsis: Yup! Nggak usah takut traveling hanya gara-gara kamu berjilbab. Sejumlah muslimah di sini telah membuktikan mereka bisa menjelajah berbagai belahan dunia, satu hal yang sering jadi impian banyak orang. Uniknya dengan banyak cara. Justru seharusnya kamu merasa aman dengan jilbab, karena biasanya jarang yang melirik. Wait, ini kabar sedih atau gembira, ya? Hehehe. Maksud saya jarang yang ngusilin, begitu… :P Anyway, Jilbab Traveler mengungkapkan kisah seru perjalanan 10 jilbaber ke berbagai negara: Perancis, Amerika, Iran, Korea, Cina, Rusia, dll. Pengin tahu gimana orang di luar negeri melihat sosok berjilbab? Dari yang dikirain TKW, dicurigain teroris, diteriakin Madame Theresa, sampai-sampai ditanyain, “Bajunya bagus sekali! Di mana saya bisa dapat?” Selain seru, buku ini bakalan bikin mantap jurus jalan-jalanmu. Liburan, sekolah, kursus, tugas, traveling atau menemani suami, di dalam dan luar negeri? No problem. Jalan-jalan jadi makin mudah, aman, dan murah, bahkan bisa gratis! Mau? -------------- Data Buku: Judul Buku: Jilbab Traveler Penerbit: AsmaNadia Publishing House Penulis: Asma Nadia dkk (Asma Nadia, Sitaresmi Sidharta, Beby Haryanti Dewi, Tria Barmawi, Dina Y. Sulaeman, Dina Mardiana, Dede Mariyah, Ellina Soraya, Hartati Nurwijaya, Wina Karnie) ISBN: 978-979-19154-0-3 Tebal : 328 hal Ukuran 13 x 20.5 cm Estimasi harga: Rp. 45.000  My first published non-fiction essay.... Disini aku nyumbang satu tulisan yang mudah-mudahan bisa memperkuat semangat para ibu untuk memperjuangkan hak anak mereka. Yo, yang belum beli...cari di toko ya ;-) Libur CNY ngapain ya? Setelah rundingan, akhirnya diputuskan kita mau ke Terengganu lanjut ke Kelantan. Pokoknya pengin liburan yang natural plus murmer. Pede banget sih awal2nya, rencana perjalanan cuma 3 hari tapi yang mau dituju kok banyak banget. Padahal dua mobil, ada dua anak kecil pula. Udah gitu nggak book penginapan, gimana nanti aja. Ya, memang, akhirnya banyak yang nggak terlaksana, tapi alhamdulillah liburan sih terlaksana. Day 1: kita pergi jam 2.30 am, masuk Karak Highway menuju Terengganu. Sempet berhenti buat tidur sekitar jam 5 sampai subuh begitu masuk wilayah Terengganu. Bapak2 ambil jalur pantai, menyusuri pantai Timur. Kita sempet berhenti di Pantai Kemasek. Pantainya masih natural sekali. Indah banget, pasir putih, ombak biru, cantiiiik. Ternyata sedang dibangun beberapa fasilitas, seperti tempat main anak, stall2 makanan. Tandasnya juga cantik dan bersih. Duh, miris rasanya kalau ingat pantai Cipatujah yang nggak kalah indah. Coba fasilitasnya juga dilengkapi dan dijaga kebersihannya. Indonesia punya banyak sekali potensi pariwisata. Ikel heboh banget main disini, sempet jatuh terperosok pasir beberapa kali. Udah basah kuyup penuh pasir, tapi bahagia banget, sampai susah diseret pulang. Lanjut lagi perjalanan, berhenti2 kalau supir2 kecapean :-) Kita berhenti di Pantai Batu Burok, cari penginapan. Ternyata semua penuh. Kita telepon hotel2 di Kuala Terengganu, ternyata penuh juga semua. Waduh. Mulai pusing. Ada homestay yang kosong di Batu Burok, tapi kok gak sesuai antara fasilitas dan harga. Jadinya kita lanjut lagi, masuk ke kota Kuala Terengganu. Nyari lagi penginapan. Setelah tanya sana-sini akhirnya dapet di Seaview Hotel tepat di depan Istana Maziah. Enak juga sih, tinggal jalan ke Pasar Payang. Harganya sama ama homestay yang ditawarin di Batu Burok tadi. Udah gitu begitu kita confirm booking begitu orang2 masuk nyari kamar kosong. Alhamdulillah gak keduluan. Abis mandi kita menuju ke mesjid terapung. Terus dari sana pulang lagi, makan n tidur.
Day 2 Abis shubuh kita udah jalan2 di pasar , tapi ternyata banyak yang belum buka. Akhirnya melesatlah ke Pantai Batu Burok. Pantai ini ramai, jadi banyak sampah. Nggak sebagus yang di Kemasek. Tapi oke lah buat main2 air. Terus kita pulang lagi buat mandi dan check out. Lepas check out kita sempetin dulu ke Pasar Payang, beli kerupuk lekor n beli daster batik buat mama dan ibuku. Ikel sama Papanya keliling naik becak hias. Sempet mampir juga ke bazaar warisan, nengok2 batik. Sutranya memang lebih murah dan lebih beragam daripada di KL. Lanjut kita menuju Kelantan. Sebelumnya berhenti dulu di Taman Tamadun Islam. Nice. Letaknya di pulau Wan Man. Disini kita sholat dulu di Mesjid Kristal, terus baru deh masuk ke tamannya. Di taman ini ada berbagai miniatur mesjid di dunia. Kita keliling pakai trem, selain trem ada juga buggy. Lihat www.tti.com.my. Lanjut lagi perjalanan, kita berencana buat berhenti di Tok Bali dan tidur disana. Katanya pantainya masih natural. Tapi sayang ternyata kita nggak dapet penginapan di Tok Bali-nya, semua penuh. Akhirnya dapat di Melawi, perbatasan Tok Bali dan Melawi. Itupun setelah beberapa kali telepon sana-sini. Kita dapat chalet, berupa rumah kayu panggung. Di dalemnya ada dua kamar, 1 ac & 2 fan, sama ruang tamu dan kamar mandi. Harga relatif murah, 50 ringgit je. And the unbeatable, pantai di pagi hari. Pantainya bener2 indah. Masih banyak umang dan kerang. Bersiiiih banget. Ombaknya juga ramah walau lama-lama membesar. Tapi Ikel n Shakeela enjoy banget. Berenang heboh sampai beberapa kali ketutup ombak. Emak2 & bapak2nya gak kalah heboh, main air plus ngumpulin kerang2 cantik. Sekitar jam 11 kita cabut dari Melawi. Setelah dipikir2, karena keterbatasan waktu dan untuk menghindari perjalanan malam di hutan2, kita langsung cabut ke Rantau Panjang. Batal deh ke Kota Bharu. Kita sampai siang2 di Rantau Panjang, perbatasan Kelantan dengan Thailand. Banyak motor dan mobil berplat Thailand disini. Bahasa, tulisan di plang2 dan uang pun bercampur. Keliling2 sebentar, belanja dikit, akhirnya kita cabut lagi. Buat jalur pulang, kita menyusuri utara KL, dari Kelantan masuk ke Perak lewat Tanah Merah. Lucunya begitu sampai di Jeli ternyata disini ada juga duty-free zone kayak di Rantau Panjang. Baru begitu sampe rumah aku tahu ternyata itu namanya Bukit Bunga, perbatasan lain Malaysia dengan Thailand. Jalan menyusuri utara Malaysia ini pertama-tamanya memang masih ada kampung2, lama2 bener2 hutan-hutan lindung. Serem banget. Begitu terus sampai akhirnya kita sampai di tol Ipoh. Finally. Kita istirahat dulu buat makan, sholat dsb di tempat peristirahatan. Dari situ baru pulang ke KL, 230 km, sekitar 2.5 jam non-stop. Dan sampai di rumah di hari ke-3, jam 2 pagi.
Capek? Pasti. Apalagi aku lagi diare akut pas pergi. Bener2 diare yang dikit2 mules. Jadinya beberapa kali berhenti buat ke kamar mandi. Udah makan pisang, terus di jalan sempet beli juga obat China, tapi belum juga berhenti. Berhentinya setelah nemu jambu biji di Pasar Payang. Alhamdulillah dari sejak itu agak berkurang frekuensinya. Dan sekarang udah nggak diare lagi. Rencana yang gak berhasil: ke Tasik Kenyir, ke Kota Bharu. Next time, sekalian lanjut ke Thailand kali. Lesson learned, lain kali kalo cari tempat penginapan dadakan langsung di pinggiran aja, kayak Melawi yang cuma 45 menit ke Kota Bharu, mana pantainya cantik lagi. Oya, di Terengganu & Kelantan ini makannya murah2. Kita bertujuh sekali makan paling 40rm, sempet cuma 22 rm. Padahal makannya gak dikit :-D dan udah termasuk minum.
Hal2 positif yang aku ambil dari perjalanan ini? Next posting ya :-)
Alhamdulillah, akhirnya kembali ke rumah setelah 5.5 hari "liburan" di rumah sakit. Ini pun hasil merengek2 pengin pulang ke dokter. Lagian orang penyakitnya kagak ketauan juga sampe ujung, mending istirahat di rumah lah. Jadi ceritanya yang sakit duluan anakku dan suami. Ikel panas tinggi sampai 40, aku treat di rumah pakai paracetamol, banyak minum dan kompres air anget. Hasilnya emaknya jadi gak tidur deh soalnya semaleman mesti terus ngompres biar panasnya gak ketinggian. Di hari ketiga aku bawa ke dokter dan dikasih obat demam yang dari "bawah" itu. Panasnya langsung drop dan Ikel tidur nyenyak hari itu. Ikel bangun dengan lebih seger, udah mulai bisa tendang ini tendang itu, dan mulailah si emaknya menggigil. Masih nekat mandi juga, jadi abis mandi kepala udah mulai denyut2 sampe akhirnya gak bisa bangun lagi saking ngegigil n sakitnya kepala. Dicek ternyata panasku udah sampe 40 juga. Hari itu dianter suami ke UGD, nebulize karena gak bisa nafas, terus dikasih obat penurun panas & tahan sakit. Test darah, normal. Pulang lagi deh ke rumah. Ternyata setelah dapet obat tetep aja tuh sakit kepala n panas gak ilang. Panas tetep 40, kepala tetep gak nahan sakitnya. Sampe akhirnya tu obat pain killer aku double dosisnya, baru agak mendingan. Karena aku udah dua kali DB jadi worry juga karena sakit kepalanya persis sakit kepala pas DB. Bangun pagi besok harinya masih tetep demam n sakit kepala, ditambah mimisan. Langsung deh ke UGD lagi. Test darah lagi cek DB, tetep normal. Tapi dokter nyaranin masuk ward aja, biar bisa dikontrol. Lagian emang kelenger banget, mau bangun aja susah. Masuklah daku ke ward. Dari situ mulailah kisah 5.5 hari di RS. Demam berkurang dikit2, sakit kepala juga berkurang setelah terus2an minum pain killer. Tapi darah dari idung pindah ke dahak, jadi batukku berdahak terus. Darah ditest lagi di hari ketiga, ditambah MRI, ditambah X-ray, semua normal mal mal. Dokter aja bingung, ya pasien apalagi. Yang paling miris, baru sekali ini dalam sejarah aku diopname, tanganku disuntik buat infus sampai 5 kali dalam 5.5 hari! Beberapa kali suntikan cuma bertahan bentar karena keburu bengkak. Namanya bengkak terus dicabut infus, hiiii....ternyata sakit bener. Mana uratku tipis sekali, makin susah dicari titik yang tepat buat disuntik. Menjelang suntikan ketiga: aku dibawa turun lagi ke UGD! Ngapain coba? Sekadar buat disuntik infus lagi! Tanya kenapa?? Soalnya disitu nggak ada yang bisa! Katanya karena masing2 tangan udah disuntik mereka gak bisa lagi nyari, harus sama yang profesional. Ya ampun, jadi yang kemaren2 nyuntik gue itu bukan profesional??? Pliiis deh, pantesan tangan gue bengkak!! Ternyata suntikan ketiga ini juga nggak bertahan lama. Akhirnya setelah nahan2 sakit, si bengkak ketauan juga deh begitu air infusnya gak mau turun lagi. Cabut lagii.... Kali ini aku gak perlu ke UGD. Tapi kejadiannya lebih tragis. Aku: "Tangan kiri je cucuk, tangan kanan saya sudah penuh. Masih sakit lagi..." Perawat: "Oke..." **sambil sibuk nyari2 urat** Perawat: "Nah, ni die..." Aku: "AAAAAA!!!" **asli teriak kenceng, sakit buanget!!** Perawat: **panik n nyabut lagi si jarum yang udah nancep** Aku: **ngeliat darah ngalir dengan pasrah** Perawat: "Sekejap ya, saya nak cari yang boleh buat..." Jadiii?? Lagi-lagi aku jadi kelinci percobaan?? Beberapa menit kemudian dateng perawat lain yang kayaknya lebih senior dan akhirnya berhasil masang infus. Tebak berapa hari si infus ini bertahan? Satu hari saja. Padahal obat yang mesti disuntikin lewat infus ini belon abis. Perawat: "Puan, kena cucuk lagi tempat baru, ni masih ada ubat kena habiskan." Aku: "Taaak! Tak nak, saya tak nak cucuk lagi. Sakit lah, ini pun sudah lima cucuk." Perawat: "Tapi ini obat macam mana, Puan?" Aku: "Tukar lah obat makan, saya tak nak..." Untunglah dokternya gak rewel dan approve aja waktu aku ngotot gak mau pasang infus lagi. Sampe detik ini aku ngetik, ini tangan masih bengkak-bengkak! Ya, disamping kejadian tragis ada kejadian lucu-lucu juga, terutama masalah bahasa. Misalnya waktu plester infusku longgar, mau lepas, terus aku pencet tombol manggil suster. Perawat (on phone): "Ada ape, Puan?" Aku: "Itu...infus lepas..." Perawat: "Apa?" Aku: "Infus...copot!" Perawat: **diem lama, terus mesin ditutup** Ternyata dia langsung muncul di kamar dan nanya lagi ada apa. Desperate langsung aku tunjuk aja tanganku. Baru beres deh. Ternyata oh ternyata...di sini namanya bukan infus, pantesan pada pasang tampang pusing semua kalo aku nanya2 infus. Namanya either IV-line atau "air". Dan gak ada itu "lepas" atau "copot", yang bener "tanggal". Jadi harusnya aku ngomong "Air tanggal!". Duh, meneketehe! Untung ada Mbak Hesti nengok yang bisa nerangin istilah2 kedokteran pake bahasa Melayu. Hah, anyway, yang penting sekarang udah pulang lang lang...senengnya! Biar diagnosis masih gak jelas, yang penting sakitnya udah jauh berkurang. Di kertasnya ditulis migraine+sinusitis, tapi obat yang dibekelinnya 9 macem (obat asma, bronchitis, antibiotik, batuk, pelancar aliran darah, painkiller dsb). Males aja bayangin makan obatnya...hehe. Tapi memang, seenak2nya rumah sakit lebih enak rumah sendiri. Ya iya lah, masa iya dong :-P
Nggak lupa aku mau ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya, dari lubuk hati terdalam, buat semua sahabat seperantauan yang udah rela meluangkan waktu buat jaga, jenguk maupun mendoakan. Buat Mbak Yayuk, Syarifah & Neng Yuri yang giliran nungguin, juga buat keluarga masing2 yang udah merelakan ibunya ngurusin aku. Buat T'Elin n keluarga yang sibuk nyariin kurma, nuhun pisan. Buat my sisters, Devi yang pengertian, Yu Hesti, Fadlina, dll. Sahabat2 di IndoKL_women, pengajian tafsir, sahabat2 di facebook dsb. "Guru2"ku, Mbak Wid yang keluarganya juga lagi diserang virus tapi masih inget aku, Ummu Hani, ust. Muntaha & kel, ust. Muhib & kel, terimakasih banyak atas waktu dan doanya. Semua pihak yang dibikin sibuk dan yang ingat aku baik melalui doa maupun simpati. Jazakumullah. Hanya Allah yang bisa balas, insya Allah dengan yang lebih baik. Sungguh semasa sakit ini, aku banyak mendapat hikmah. Terasa sekali bahwa janji Allah, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, benar adanya. Dan dengan sakit ini pula aku merasakan cinta yang tulus, cinta dari sahabat2 semua, yang walaupun tidak ada pertalian darah tapi tetap merasakan kedekatan di hati masing-masing. Dan cinta suami tersayang, yang merawatku dengan sabar, padahal sendirinya pun sakit. Beneran cinta, if u read this post, I want to tell you that I love you more and more after those days. Suamiku juga yang bikin aku mikir, sebenernya aku kalo lagi sehat secerewet apa sih?? Sampai2 begitu aku mulai ngomel2 setelah beberapa hari di RS, suamiku malah senyum seneng dan bilang "Mama udah sembuh!".
Hari ini Ikel pentas di graduation day TK-nya. Jadi dia naik panggung...bener2 naik panggung aja...hehe. Soalnya di panggung bukannya ikut nari dia malah duduk di pinggir, sibuk nutupin kupingnya yang ekstra sensitif sama bunyi2an. Begitu bosen, tiduran deh. Pas peragaan gymnastic, dia mau rolling dibimbing sama gurunya, satu2nya yang dipegangin guru gara2 tangannya masih tetep sibuk nutup kuping. Temen2nya selesai nari malah tepuk tangan, gak ngerasa "dosa" ninggalin tugasnya nari juga :-D In one side, it was a really great achievement. For him to stand and stay on stage without running here and there was really hard to do. But he managed to do it. And i'm really proud of him. But in the other side, I cannot lie myself...i feel sad and afraid... Gimana nggak, ngeliat anak2 lain yang begitu cerianya nari, nyanyi, pidato dsb...Deep inside, aku ketakutan...bisakah dia seperti itu nanti? Gimana taun depan pas graduationnya sendiri? Tanpa sadar aku compare, padahal aku tau aku gak boleh compare...setiap anak itu unik. Mereka punya kelebihan sendiri, masalah sendiri. It's a big no no buat ortu dengan anak2 special need buat compare, bikin stress aja. Look at what he can do, Ya, not to what he can't do...itu aja yang aku berusaha ingetin ke diri sendiri. Susah banget nahan biar nggak nangis selama kontes tadi. Nangis haru liat anakku di pentas, nangis haru liat anak2 lain yang mau naik ke primary, nangis takut... Ya Allah...berikanlah yang terbaik untuk kami.... kami tidak meminta kesembuhan, karena sembuh dan tidak sembuh itu relatif... dan kami hanya bisa memandang dari kacamata seorang hamba... yang sama sekali buta dengan rencana-Mu. Tapi aku percaya Engkau Maha Pemurah.... jika keistimewaan anakku adalah cara Engkau mengabulkan doaku, untuk diberi seorang anak yang akan menjadi sosok yang bermanfaat untuk umat-Mu... maka bantulah kami ya Allah... bantulah kami untuk membimbingnya... beri kami kekuatan, kesabaran dan kemudahan....
| |